Cash is King & Liquidity is Queen

Menjaga likuiditas merupakan bagian dari tingkat kenyamanan hidup sama seperti kebutuhan setiap orang akan ketersediaan air minum

Apa yang dimaksud dengan likuiditas?

 

Tingkat likuiditas dari sebuah asset selalu dinilai dari kemudahan asset tersebut dicairkan ke dalam bentuk tunai. Tingkat likuiditas yang ideal dari sebuah asset diukur dalam jangka waktu paling lama 6 bulan, artinya bila proses pencairan melebihi jangka waktu 6 bulan maka asset tersebut tidak likuid.

 

Sebagai illustrasi, tingkat likuiditas ideal yang disepakati oleh para perencana keuangan adalah rasio antara asset likuid terhadap kekayaan sama dengan 15%, yang merupakan batasan kekuatan likuiditas likuiditas yang ideal. Kekuatan likuiditas digunakan untuk mengambil peluang dan menjaga kenyamanan keuangan keluarga. Dana likuid disimpan di bank atau produk investasi yang bersifat likuid.

Ilustrasi lainnya adalah dana darurat. Dana darurat diperlukan untuk mendanai kebutuhan darurat yang tidak direncanakan seperti mobil rusak, atap rumah bocor atau ada keluarga dekat yang sakit. Dana darurat adalah berbentuk asset likuid dengan jumlah antara 3 sampai 6 bulan pengeluaran tetap mereka. Tanpa dana darurat, keluarga bisa kehilangan kenyamanan hidup bila terjadi situasi darurat.

 

Menjaga likuidtas merupakan bagian dari tingkat kenyamanan hidup, sama seperti kebutuhan setiap orang akan ketersediaan air minum dan oksigen (O2)

 

Mungkin anda memiliki empat jenis asset seperti di bawah ini. Mari kita diskusikan apakah pandangan saya tentang kaitan asset di bawah ini dengan tingkat likuiditas sama dengan pandangan anda:

  1. Asset pertama adalah tanah dan bangunan, masuk dalam kategori immovable asset. Tanah dan bangunan kita kenal sebagai asset utama orang Indonesia. Dikenal sebagai asset yang susah dijual untuk dijadikan dana tunai dengan harga sesuai keinginan penjual. Bahkan saat sedang butuh uang dan dijual di bawah harga pasar juga seringkali sulit menemukan pembeli jenis asset ini mempunyai tingkat likuiditas paling rendah. Sulit menjual tanah dan bangunan secara cepat terutama bila harganya tinggi dan lokasinya tidak strategis.
  2. Asset kedua adalah semuasimpanan di bank. Bisa berbentuk tabungan, deposito dan SDB (safe deposit box). Asset kedua ini masuk dalam kategori movable asset. Tabungan dapat diakses melalui ATM. Mobile banking, e-banking dan mesin EDC saat kita berbelanja. Deposito memerlukan pemilik rekening untuk membuka atau menutup deposito tersebut. Demikian juga SDB dalam prakteknya memerlukan kehadiran pemilik SDB untuk membukanya. Simpanan di bank merupakan jenis asset yang memiliki tingkat likuiditas dan keamanan tinggi.
  3. Asset ketiga adalah produk investasi seperti obligasi, reksadana, saham dan nilai tunai asuransi jiwa unit link. Produk investasi ditujukan bagi nasabah bank yang menginginkan hasil investasi yang lebih tinggi dibandingkan deposito, walaupun risiko investasinya juga lebih tinggi. Produk investasi juga merupakan jenis asset likuid yang bisa dicairkan dalam waktu relative cepat. Perlu diingat, produk investasi diperlukan untuk jangka menengah dan panjang. Nilai tunai asuransi dalam batasan tertentu juga menawarkan kemudahan untuk dicairkan.
  4. Asset keempat adalah simpanan di rumah. Sepertinya orang Indonesia terbiasa menyimpan barang-barang berharga seperti uang tunai dan perhiasan di safe deposit box di rumah. Biasanya mereka menyimpan dalam mata uang asing untuk rencana darurat atau liburan. Isi safe deposit box di rumah termasuk dalam kategori likuid karena bisa dijual segera.

 

Perlu dicatat, pemilik bisa melakukan akses hanya selama mereka masih hidup. Kategori likuid belum tentu berlaku bila pemilik meninggal dunia.

 

Peraturan perbankan mengharuskan bank untuk mengamankan semua simpanan yang meninggal dunia ke dalam dormant account yang tidak bisa diakses siapapun, sampai bank mempunyai bukti kuat seseorang adalah ahli waris yang sah dari nasabah yang meninggal dunia tersebut. Asset yang tadinya masuk dalam kategori likuid menjadi tidak likuid. Situasi seruap bisa terjadi dalam produk investasi kecuali nilai tunai asuransi yang bersama uang pertanggungan asuransi bisa dibayarkan kepada penerima manfaat asuransi.

 

Dalam sebuah acara client gathering sebuah bank, saya bertemu Bapak Jeffrey W (65) yang bertempat tinggal di Jakarta Selatan. Berdasarkan fact finding kami menemukan bahwa total asset beliau bernilai hamper Rp 12 M. sekitar 70% dari total asetnya berbentuk tanah dan bangunan di daerah elit Jakarta Selatan, masuk dalam kategori tidak likuid. Selain itu, sekitar 28% asset lainnya berbentuk tabungan dan deposito, jelas masuk dalam kategori likuid. Lainnya 2 % dalam bentuk investasi Reksadana dan uang kas dalam mata uang USD yang disimpan di SDB di rumah. Asset ini likuid. Beliau tidak punya hutang sama sekali. Rasio likuiditasnya adalah 30% dari kekayaan yang merupakan rasio likuiditas yang ideal. Apakah betul begitu?

 

Betul, saat beliau masih hidup kekuatan likuiditas beliau ideal. Namun saat beliau meninggal, kekuatan likuiditas beliau menjadi tidak ideal karena asset likuid di bank dan produk investasi berpotensi menjadi tidak likuid. Mungkin yang masih masuk dalam kategori likuid hanya di bawah 2% yaitu asset nilai tunai asuransi dan asset yan tersimpan di rumah.

 

Untuk kepentingan menjaga kekuatan likuiditas yang ideal yaitu 15% dari kekayaan, saya menyarankan beliau mengubah alokasi asset dengan memasukkan polis asuransi jiwa sebagai bagian dari alokasi asset. Bila beliau meninggal, sumber likuiditas dimungkinkan melalui 2 jenis asset yaitu klaim asuransi jiwa dan asset yang tersimpan di rumah.

 

Likuiditas menjadi kendala utama keluarga saat seseorang meninggal. Liquidity planning merupakan suatu rencana yang perlu dirancang dalam setiap strategi alokasi setiap orang.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.